Wednesday, November 15, 2006

Hasto, saloka 'n me


Sekarang masihlah teramat pagi, ya jarum pendek dijam tangan masih menunjukkan angka 3, namun semua sudah mulai berkemas. Semua sudah bersiap, lalu membuat lingkaran, berdoa meminta perlindungan atas kuasaNya.
itu cerita sejam yang lalu, kini setengahnya pun aku belum menyentuhmu...peluh sudah membanjiri tubuh ini,namun semangat tetap utuh.
Sudah setengah jalan berlalu. Satu, dua teman tertinggal jauh dibelakang,aku masih bisa menatap mata letihnya, letih setelah dua hari perjalanan yang sangat melelahkan. seolah mata itu berkata "teruskan...teruskan perjalanan,jangan lelah, jangan pernah menyerah !!". Entah mengapa tatapan itu memberi kekuatan yg sangat dasyat kepadaku, ku balikkan badan, menatap titik tujuan, melangkah pasti walau perlahan. Sebotol air mineral,sedikit roti yang tersisa menemaniku, dan Hasto yang tak pernah lepas dari genggamanku terus membakar semangat didada, menuntunku pada senyum Saloka.
Dua langkah kaki ini melangkah,namun pasir-pasir yg ku tapak memaksaku mundur kembali selangkah,terus berulang dan berulang untuk yg kesekian, mungkin hingga akhir tujuan "semoga tidak" ucapku pelan tersamar suara gemuruh dari saloka yang lantang menggelegar.
Cahaya hangat membangunkanku yang tertidur sejenak, kelelahan. menyadarkanku untuk meneruskan perjalanan, jarum jam sudah menunjukkan angka 5, kubersegera!!.


Ranu Pani. . .

Ranu Regulo . . .

Ayet-ayek . . .

cahaya orange di tengah danaunya dan tiba-tiba berubah wujud menjadi sesosok wanita ditengah malam kulewati bersama sebuah harmonika yang berubah suara menjadi parau.

belibis liar dan kabut di Ranu Kumbolo . . .

padang rumput hijau oro-oro ombo . . .

tikus-tikus Kalimati . . .

dan 5°c di Arcopodo, telah terlewati.

Kini hanya angin yang menderu dan hangat sinar matahari yang menyelimuti, saat itu kurasakan kesendiri, semakin kurasakan kedekatan Mu . . . ku syukuri satu persatu anugerah Mu.
sudah terasa satu jam aku berjalan dari pemberhentian terakhir,baru kusadari sepuluh langkah terakhir yg kupijak tak tak sesukar yang sebelumnya,didepanku padang pasir dan bebatuan luas terbentang. Sayup2 ku dengar suara2 memanggilku, tersamar oleh suara gemuruh saloka yang semakin jelas terdengar. Kubalas senyuman teman-teman yang sudah terlebih dahulu sampai, jabat tangan dan peluk menghapus lelahku.


Ku kuberlari di antara pasir dan kerikil ke bibir padang pasir, sekedar melihat senyum indahmu Saloka, dan Hasto ditanganku kini berkibar gagah.


"Mahameru ku singgah didalam pelukmu"


Jonggring Saloko = Kawah di puncak Gunung Semeru. Hasto = bendera Mapala ADVY (Hasta Dwi Sangga buwana) Puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl).

Wednesday, September 20, 2006

Disuatu Gang

Langkah kecil kami . . .Belok tapak kecil kami, turut menggoreskan lukisan abstrak diwajahmu/
Tawa canda kami, turut berdendang dengan irama sunyimu/
Seolah menjadi bagian masa muda kami,Walau kemudian sejenak terlupakan/

Sebuah dipan kayu dulu turut menemani kami berbagi kebersamaan diwaktu-waktu senggang, terkadang menjadi suatu keharusan yang tak mengekang namun dihantui kerinduan/

rindu kebersamaan, rindu kenakalan, rindu keceriaan Rindu . . . rindu akan kebebasan/
Kebebasan dan kemerdekaan akan belenggu semangat muda menjadikan suatu yang tak terbataskan/
meracuni, menjerumuskan dan . . . sejenak kemudian kami terlupakan/

lagu kebebasan terus berdendang, irama kemerdekaan masih berkumandang, hinggar bingar dalam kesunyian menina bobokan kami dalam kemasyukan /
Sebagian dari kami beranjak, bangun dari kesadaran, walau sebagian lagi "tertidur" dalam pembaringan penantian, terbuai mimpi-mimpi kepalsuan/
Selamat tidur kawan . . . Kenangan kita terpatri didinding hati, didinding-dinding tinggi kaum moderat yang mengekang langkah-langkah kecil dan tawa usil disuatu gang yang perlahan dilupakan/


(wardho100502)dedicated for: yang "tertidur" dalam pembaringan penantian cepot,kebo,ambon,ucup,panjoel,komeng. (dan msh banyak lg)

Dewi Rengganis

1st...
Dewi Rengganis. sekarang aku di dataran tinggi Hyang, di Alun-alun Besar.
Hamparan padang rumput sejauh mata memandang, bak permadani hijau yang terbentang luas, dengan udara yang begitu menyegarkan. Sungai kecil meliuk-liuk membelah begitu indah, walau sedikit lengang, aura ramah tetap menjamah.
Sang Merak menari dan bernyanyi bersama dalam kelompoknya, disisi lainnya tiga babi hutan berjalan beriringan menuju aliran sungai dan dua ekor kijang berkejar-2an lalu hilang dalam rimbunnya ilalang . . .
Dewi, aku membayangkan engkau bernyanyi, menari dan berkejaran bersama dayang-dayang disore yang indah sesaat sebelum malam menjelang.

"eMak lapangan itu apaan seh ? " ucap seorang bocah (saat itu usianya 5thn) tetangga sebelah rumah.

Sempat dalam pulang ku kerumah, kulihat dia memakai kostum bola dengan punggung bertuliskan Oliver Khan.Aku pun tertawa, tawa yang lirih, bila mengingat pertanyaan yg sempat terucap olehnya 5 tahun lalu, semoga dia sudah mengenal dan akrab dengan lapangannya, Amin.
Cikasur . . . Aku teringat rumah, dipemukiman padat kota. menghantarku lelap setelah berjalan seharian.

2nd...

Lebatnya hutan untuk yang kesekian telah kulewati, pagi menjelang siang.
Aku tiba di sebuah gubuk tua dengan halaman yang cukup luas diantara pohon-pohon pinus yang menjulang. Tak jauh dibawahnya mengalir sungai dengan airnya yang jernih diantara batu-batu besar. . . aa a h h tak ada salahnya aku membasuh tubuh yang sedikit letih sebelum melanjutkan perjalanan.
Dewi, aku membayangkan disini prajurit-prajurit pilih tanding berjaga-jaga dengan kuda-kuda yang gagah untuk menjaga jalan masuk keistanamu.

air hujan mengalir keselokan-selokan yang semakin sempit. Tak cuma air yang kotor bercampur busa-busa deterjent, sampah-sampah plastik juga sandal japit mengalir ke kali tempat aku kecil dulu memancing dan bermain rakit.

Berdoa hujan turun sebentar saja.
Cisentor. . . aku teringat kali kotor dekat rumah, dipemukiman padat kota.

3th...

Senja telah tiba. . . . mm m h hhh pendakian kali ini sangat mengesankan,sangat berbeda dengan gunung-gunung yang pernah kudaki di pulau Jawa ini.
Kuputuskan bermalam disini,padang rumput yang dikelilingi bukit-bukit kecil, lagi-lagi kutemukan kembali sungai-sungai jernih mengalir yang dipenuhi dengan selada air,hijau menyegarkan mengundang selera untuk menikmatinya.
. . . m m m tenda dipasang,peralatan kebutuhan dikeluarkan, kuharus beristirahat panjang karena setelah besok pagi kepuncak kuputuskan untuk tidak bermalam,langsung menuju pulang.
Selada air memenuhi nasting, beruntung masih ada sisa-2 bumbu mie instan, dengan sekejap saja didepan ku sudah tersedia tumis selada air yang sungguh nikmat . . .
Dewi, aku membayangkan abdi-abdi mu telah menghias taman ini dengan bunga-bunga yang indah dengan aroma yang wangi semerbak,mempesona.

Rawa embik, kuteringat emak dan masakan rumah dengan bumbu cintanya, walau tak begitu lezat kusangat menikmati saat menyantapnya.

Tapak kaki terus melangkah, satu...dua. Ladang eidelweis menghampar,puncak didepan mata. Lelah, berkeringat, namun semangat menghantarku sampai keperaduanmu,3088 Mdpl.
Dewi, kini tak lagi aku membayangkan, karena sekarang kulihat jelas indah istanamu, kulihat jelas . . . (sesaat sebelum ku tertidur di puing-puing istanamu, berharap ku takterbangun lagi karena sungguh indah istanamu).

Puncak (Dewi) Rengganis,puncak Argo.
kuharus kembali . . .

eidelweis di Savana Lonceng,
tumis slada air Rawa Embik,
mandi di Cisentor,
terperosok dan meluncur dipadang rumput gimbal ,
bulu kuduk yg berdiri di sepanjang Hutan Lumut ,
menikmati sore di Danau Taman Hidup,
hutan damar.

berjalan,berlari,kubenci bobot yang kini 92 kg,

kurindu beraktifitas,
ku rindu berkeringat !!!

kawan sejalan . . .
mungkin jalan setapak itu sudah tak ditumbuhi rumput lagi
atau mungkin jalan setapak itu sudah ditumbuhi ilalang yang sangat tinggi . . .
namun ku yakin kita tetap tau kmana kita kan melangkah lagi . .
.